Tidak dibenarkan menyalin/copy isi artikel dari bungong-jaroe.blogspot.com tanpa izin dari pihak pengelola. Hargailah karya seseorang. Terima Kasih.

Wednesday, January 21, 2015

Asal Mula Daerah Pidie


Selama ini kita mengetahui asal mula daerah Pidie sekarang adalah Kerajaan Poli atau Pedir, tapi ternyata jauh sebelumnya sudah ada Kerajaan Sama Indra sebagai cikal bakalnya.



Sebuah buku lama yang ditulis sejarawan M Junus Djamil yang disusun dengan ketikan mesin tik, mengungkapkan hal itu. Buku dengan judul “Silsilah Tawarick Radja-radja Kerajaan Aceh” Buku yang diterbitkan oleh Adjdam-I/Iskandar Muda tidak lagi jelas tahun penerbitnya. Tapi pada kata pengantar yang ditulis dengan ejaan lama oleh Perwira Adjudan Djendral Kodam-I/Iskandar Muda, T Muhammad Ali, tertera 21 Agustus 1968.

Buku setebal 57 halaman itu pada halaman 24 berisi tentang sejarah Negeri Pidie/Sjahir Poli. Kerajaan ini digambarkan sebagai daerah dataran rendah yang luas dengan tanah yang subur, sehingga kehidupan penduduknya makmur.

Batas-batas kerajaan ini meliputi, sebelah timur dengan Kerajaan Samudra/Pasai, sebelah barat dengan Kerajaan Aceh Darussalam, sebelah selatan dengan pegunungan, serta dengan selat Malaka di sebelah utara.

Suku yang mendiami kerajaan ini berasal dari Mon Khmer yang datang dari Asia Tenggara yakni dari Negeri Campa. Suku Mon Khmer itu datang ke Poli beberapa abad sebelum masehi. Rombongan ini dipimpin oleh Sjahir Pauling yang kemudian dikenal sebagai Sjahir Poli. Mereka kemudian berbaur dengan masyarakat sekitar yang telah lebih dahulu mendiami kawasan tersebut.

Setelah berlabuh dan menetap di kawasan itu (Pidie-red), Sjahir Poli mendirikan sebuah kerajaan yang dinamai Kerajaan Sama Indra. Waktu itu mereka masih menganut agama Budha Mahayana atau Himayana. Oleh M Junus Djamil diyakini dari agama ini kemudian masuk pengaruh Hindu.

Lama kelamaan Kerajaan Sama Indra pecah mejadi beberapa kerajaan kecil. Seperti pecahnya Kerajaan Indra Purwa (Lamuri) menjadi Kerajaan Indrapuri, Indrapatra, Indrapurwa dan Indrajaya yang dikenal sebagai kerajaan Panton Rie atau Kantoli di Lhokseudu.

Kala itu Kerajaan Sama Indra menjadi saingan Kerajaan Indrapurba (Lamuri) di sebelah barat dan kerajaan Plak Plieng (Kerajaan Panca Warna) di sebelah timur. Kerajaan Sama Indra mengalami goncangan dan perubahan yang berat kala itu,.

Menurut M Junus Djamil, pada pertengahan abad ke-14 masehi penduduk di Kerajaan Sama Indra beralih dari agama lama menjadi pemeluk agama Islam, setelah kerajaan itu diserang oleh Kerajaan Aceh Darussalam yang dipimpin Sultan Mansyur Syah (1354 – 1408 M). Selanjutnya, pengaruh Islam yang dibawa oleh orang-orang dari Kerajaan Aceh Darussalam terus mengikis ajaran hindu dan budha di daerah tersebut. 

Setelah kerajaan Sama Indra takluk pada Kerajaan Aceh Darussalam, makan sultan Aceh selanjutnya, Sultan Mahmud II Alaiddin Johan Sjah mengangkat Raja Husein Sjah menjadi sultan muda di negeri Sama Indra yang otonom di bawah Kerajaan Aceh Darussalam. Kerajaan Sama Indra kemudian berganti nama menjadi Kerajaan Pedir, yang lama kelamaan berubah menjadi Pidie seperti yang dikenal sekarang.

Meski sebagai kerajaan otonom di bawah Kerajaan Aceh Darussalam, peranan raja negeri Pidie tetap dipererhitungkan. Malah, setiap keputusan Majelis Mahkamah Rakyat Kerajaan Aceh Darussalam, sultan tidak memberi cap geulanteu (stempel halilintar) sebelum mendapat persetujuan dari Laksamana Raja Maharaja Pidie. Maha Raja Pidie beserta uleebalang syik dalam Kerajaan Aceh Darussalam berhak mengatur daerah kekuasaannya menurut putusan balai rakyat negeri masing-masing.

Masih menurut M Junus Djamil, setelah Sultan Mahmud II Alaiddin Jauhan Syah raja Kerajaan Aceh Darussalam Mangkat, maka Sultan Husain Syah selaku Maharaja Pidie diangkat sebagai penggantinya. Ia memerintah Kerajaan Aceh dari tahun 1465 sampai 1480 Masehi. Kemudian untuk Maharaja Pidie yang baru diangkat anaknya yang bernama Malik Sulaiman Noer. Sementara putranya yang satu lagi, Malik Munawar Syah diangkat menjadi raja muda dan laksamana di daerah timur, yang mencakup wilayah Samudra/Pase, Peureulak, Teuminga dan Aru dengan pusat pemerintahan di Pangkalan Nala (Pulau Kampey).
[Iskandar Norman/PM]



Sumber: acehsky.blogspot.com
[Lanjut baca...]

Saturday, December 13, 2014

Penyerangan Belanda ke Kuta Gle, Batee Iliek

Benteng Kuta Gle Batee Iliek menyisakan sejarah heroisme dan pengkhianatan. Kini terbengkalai di ujung timur jembatan Krueng Batee Iliek.

Monumen benteng Kuta Gle dibangun untuk mengenang para syuhada yang tewas mempertahankan kerajaan Aceh terhadap agresi Belanda. Monumen itu menyimpan  secuil kisah tentang keheroikan pejuang Aceh.
Pada masa pergolakan perang melawan Belanda di Batee Iliek terkenal seorang pemimpin pejuang Aceh, Panglima Said yang memimpin perjuangan melawan Belanda di Kuta Gle, Batee Iliek.
Selama 23 tahun benteng Kuta Gle sangat sulit ditaklukkan Belanda, walau mereka dilengkapi persenjataan lengkap. Strategi yang digunakan Panglima Said cukup unik. Pasukan Belanda yang mencoba naik ke bukit Kuta Gle dibiarkan saja. Tapi ketika sebagian besar pasukan Belanda sedang mendaki, pasukan Panglima Said menggulingkan potongan  batang kelapa yang telah duluan dipersiapkan dari atas bukit. Akibatnya batang kelapa itu menimpa pasukan Belanda dan mereka terjungkal ke sungai hingga tewas.

Benteng Kuta Gle baru bisa ditaklukkan pada tahun 1901. Seorang “Cuak” bernama panggilan Abu Pang. Ia berkhianat dengan membawa pasukan Belanda melalui jalan lain untuk menyerang benteng Kuta Gle. Oleh Belanda Abu Pang dimasukkan ke dalam sebuah guci agar tidak terlihat warga. Karena pengkhianatan itulah benteng Kuta Glee takluk dan dikuasai Belanda. Panglima Said sendiri waktu itu tewas di tempat bersama sebagian besar pejuang akibat pengkhianatan Abua Pang.

Mengenang peristiwa tersebut, sebuah monumen dibangun di kaki bukit Kuta Gle, tepatnya di ujung timur Jembatan Batee Iliek. Monumen itu kini menjadi tonggak sunyi ditengah keramaian wisatawan lokal yang mengunjungi areal wisata Krueng Batee Iliek setiap harinya. Jarang yang tahu bahwa di tempat rekreasi itu pernah terjadi sebuah pergoalkan besar melawan Belanda yang puluhan tahun berusaha menaklukkannya.

Syahid Lapan
Tak jauh dari Kuta Gle, sekitar beberapa belas kilometer ke arah timur. sebuah situs sejarah perjuangan melawan Belanda juga terdapat di Desa Tambue Kecamatan Simpang Mamplam Kabupaten Bireuen. Situs tersebut berupa makam delapan pejuang yang dinamai Syahid Lapan.

Dinamakan makam Syahid Lapan, karena di situ dimakamkan delapan pejuang yang gugur melawan Belanda. Mereka adalah Tgk Panglima Prang Rayeuk Jurong Binje, Tgk Muda Lem Mamplam, Tgk Nyak Balee Ishak Blang Mane, Tgk Meureudu Tambue, Tgk Balee Tambue, Apa Syehk Lancok Mamplam, Muhammad Sabi Blang Mane, dan Nyak Ben Matang Salem Blang Teumulek.

Kisah keheroikan para Syuhada Lapan sangat jelas tertulis pada dinding makam. Peristiwa heroik itu terjadi  pada awal tahun 1902, para Syuhada Lapan menghadang pasukan marsose.  Pasukan pribumi binaan Belanda itu berjumlah 24 orang. Mereka semuanya bersenjata api. Sedangkan pasukan delapan pejuang Aceh tersebut hanya bersenjatakan pedang. Tapi berkat semangat juang yang tinggi, mereka berhasil menewaskan semua marsose tersebut.

Setelah pasukan Lapan  berhasil melumpuhkan semua serdadu marsose, lalu mereka mengumpulkan  senjata milik penjajah tersebut. Mereka larut dalam euphoria kemenangan. Tanpa mereka sadari tiba-tiba sejumlah serdadu marsose lain datang dari arah Jeunieb memberi bantuan. Kedelapan pejuang itu diserang secara membabi buta dan gugur bersimbah darah.

Jasad para syuhada tersebut kemudian dikebumikan dalam satu liang. Sebab serdadu marsose  mencincang-cincang bagian tubuh para pejuang tersebut dengan pedang milik mereka sendiri.

Kini, saban hari makam Syuhada Lapan banyak didatangi orang yang ingin bernazar. Bukan hanya dari Kabupaten Bireuen, tapi juga dari daerah lainnya di luar Kabupaten Bireuen. Setiap hari libur ada saja yang datang untuk melepas nazar, seperi menyembelih sapi atau kambing di Makam itu.

Para pengguna jalan juga selalu berhenti sebentar begitu tiba di depan kuburan Syuhada Lapan untuk memberi sumbangan. Di depan makam memang telah disediakan celengan beton berbentuk miniatur rumah. Konon kabarnya, apabila para pengguna jalan tidak berhenti dan memberi sedekah jika melewati makam tersebut, maka akan mengalami hambatan di perjalanan.    

Yang agak unik makam Syuhada Lapan dinaungi sebatang pohon yang rindang, yakni pohon Sala Teungeut. Dinamakan pohom sala teungeut, karena sekitar pukul 18.00 WIB daun-daun pohon itu menguncup dengan sendirinya, seiring senja datang dan kembali mekar keesokan harinya. Pohon itu tiga tahun lebih muda dari usia makam Syuhada Lapan, sampai sekarang masih tetap kokoh dan kuat.

Heroisme Melawan Belanda
Heroisme perang melawan Belanda terjadi di seluruh Aceh. Namun beragam peritiwa sejarah tersebut seolah terlupakan. Perlawanan rakyat Aceh dimulai setelah  Belanda menguasai pusat Kerjaaan Aceh (Dalam) pada 31 Januari 1874. Setelah agresi Belanda pada maret 1973 gagal total dengan tewasnya Jendral JHR Kohler di depan Mesjid Raya Baiturrahman.

Setelah menguasai Dalam, pihak Belanda melalui Letnan Jenderal van Swieten mengeluarkan proklamasi bahwa Pemerintah Hindia Belanda telah menggantikan kedudukan Sultan dan menempatkan Daerah Aceh Besar menjadi milik Pemerintah Hindia Belanda. Pihak Belanda berusaha agar daerah-daerah di luar Aceh Besar mengakui kedaulatan Pemerintah Hindia Belanda, dan jika tidak dapat dengan jalan damai, akan dilakukan dengan kekerasan.

Pihak Belanda menyangka dengan menduduki Dalam dan sebagian kecil daerah Aceh Besar serta dengan sebuah proklamasi, dapat membuat daerah Aceh lainnya takluk kepada Belanda. Kenyataannya, perlawanan pihak Aceh semakin berkobar.

Meskipun van Swieten telah memproklamasikan bahwa Pemerintah Hindia Belanda menggantikan kedudukan Sultan, pihak Aceh tetap mengangkat pengganti Sultan Alaiddin Mahmud Syah yang telah mangkat dengan Tuanku Muhammad Daud bergelar Sultan Alaiddin Muhammad Daudsyah (putra Tuanku Zainal Abidin bin Sultan Alaiddin Ibrahim Mansyur Syah).

Perlawanan pihak Aceh terus berlanjut hingga menjelang awal kedatangan Jepang (1942). Perlawanan tersebut dipimpin oleh ulama dan uleebalang serta disemangati  oleh pengaruh syair-syair yang heroik dari penyair yang membangkitkan semangat dan antipati terhadap Belanda yang disebut sebagai kafir yang harus dilawan.

Syair-syair tersebut, di antaranya Hikayat Prang Sabi (Teungku Chik Pante Kulu), Hikayat Prang Kompeni (Do Karim/Abdul Karim), dan sebagainya. Antipati juga disebabkan oleh pihak Belanda yang tidak memperbolehkan rakyat Aceh untuk mengibarkan Bendera Alam Peudeueng dan harus mengibarkan Bendera Belanda.

Perlawanan rakyat Aceh dalam Perang Aceh sepanjang sejarah yang disebutkan di atas, melahirkan banyak catatan-catatan. Jenderal GP. Booms dalam bukunya De Erste Atjeh Expediti en Hare Enquete (Zentgraaf, 1938) menulis: “Blijkbaar rekende men dus op een gemakkelijke overwinning. De feiten, een jarenlange ervaring, hebben echtar getoond, dat men te maken had men telrijken, energieken vijand,... met een volk van een ongekende doodsveracting,dat zich onverwinbaar achtte... die ervaring leert in een woord, dat wij niet gestaan hebben tegenover een machteloozen sultan wiens rijk met den valvan zijn Kraton zou ineenstorten maar tegenover een volksoorlong, die behalve over al de materieele middelen vaqn het land, over geweldige moreele krachten van fanatisme of patriotisme beschikte..”


(“telah diperkirakan suatu kemenangan yang akan diperoleh dengan mudah. Akan tetapi, pengalaman bertahun-tahun lamanya memberikan petunjuk, bahwa yang dihadapi itu adalah musuh dalam jumlah besar yang sangat gesit, ... suatu bangsa yang tidak gentar menghadapi maut, yang menganggap ia tidak dapat dikalahkan... Pengalaman itu memberi pelajaran, bahwa kita tidak dapat menghadapi seorang Sultan, yang kesultanannya akan berubah dengan jatuhnya Kraton, akan tetapi kita menghadapi rakyat yang menentukan harta-benda negara, memilki tenaga-tenaga moril, seperti cinta tanah air”).

Dalam sidang Parlemen Belanda pada 15 Mei 1877, Menteri Urusan Koloni Belanda memberikan jawaban atas interpelasi yang menyoalkan kegagalan Belanda itu, “Wij hebben te trotseeren gehad een ongekande doodsveracthing, een volk dat zich onverwinbaar achtte” (“Kita telah menghadapi maut, bangsa yang menganggap ia tidak sedikit pun gentar menghadapi maut, bangsa yang menganggap ia tidak mugkin dapat dikalahkan”).

Kegagalan Belanda itu terus saja dibicarakan, sampai Belanda pun menaruh hormat atas keberanian pejuang Aceh (baik pria maupun wanita). Rasa hormat itu sebagaimana diungkapkan Zentgraaff dalam bukunya Atjeh, yang menulis: “De Atjehschevrouw, fier en depper, was de verpersoonlijking van den bittersten haat jegens ons, en van de uiterste onverzoenlijkheid an als zij medestreed, dan deed zij dit met een energie en doodsverachting welke veelal die der mennen overtroffen. Zij was de draagster van een haat die brandde tot den rand van het graf en nog in het aangezicht van den dood spuwde zij hem, den kaphe in het gezicht”


(“Wanita Aceh  gagah dan berani mereka pendukung yang tidak mungkin didamaikan, terhadap kita dan bila ia turut serta bertempur, dilakukannya dengan gigih dan mengagumkan, bersikap tidak takut mati yang melebihi kaum pria. Ia mempunyai rasa benci yang menyala-nyala sampai liang kubur dan sampai saat menghadapi maut, ia masih mampu mendahului muka si kaphe”).

Perang antara pihak Belanda dan pihak Aceh yang dikenal dengan Perang Aceh melahirkan pengakuan pihak Belanda. G.B. Hooyer (1897) menulis: “Geen benden van Diepo Negoro of Sentot, geen dweepzieke Padri’s, geen scharen Balineezen of ruitmassa’s der Bonieren ontwikkelden ooit zooveel dapperheid en doodsverachting in het gevecht, zooveel stoutheid bij den aanval, zooveel vertrouwen op eigen kracht, zooveel taaiheid in tegenspoed, als die door den vrijheidlievenden, fanatieken, voor den guerilla-krijg als geschapen Atjeher werden betoond. Daarom zal de Atjeh-oorlog steeds een leerschool blijven voor ons leger, ...”

(“Tidak ada pasukan Diponogoro atau Sentot (Ali Basyah Prawiro Dirjo), tidak ada pasukan Padri yang sedemikian fanatiknya, tidak ada pasukan Bali atau pasukan berkuda orang Bone yang telah memperlihatkan keberanian dan tidak gentar menghadapi maut di dalam pertempuran-pertempuran, disertai dengan kenakalan-kenakalan pada penyerangan, demikian penuh kepercayaan pada kekuatan sendiri, begitu gigih di dalam menghadang lawan, seperti yang diperlihatkan oleh orang Aceh yang cinta kemerdekaan, fanatik dan laksana dilahirkan untuk bergerilya. Karenanya, perang Aceh akan selalu merupakan sekolah tempat belajar untuk tentara kita, ...”).

Zentgraaf, menutup dengan kalimat: “Cemme ils tombent bien.... en is er een volk op deze aarde dat de ondergang dezer heroike figuren niet met diepe vereering zou schrijven in het ziyner historie?” (... dan adakah suatu bangsa di bumi ini yang tidak akan menulis tentang gugurnya para tokoh heroik ini dengan rasa penghargaan yang sedemikian tingginya di dalam buku sejarahnya?”).[Iskandar Norman]


Sumber: acehsky.blogspot.com
[Lanjut baca...]

Monday, November 10, 2014

Diplomasi Aceh Tempo Dulu

Untuk menjalin hubungan dangan kerajaan Belanda, Raja Aceh, Sultan Alauddin Al Mukamil mengutus Abdul Hamid ke negeri kincir angin tersebut. Rombongan duta Aceh itu tiba pada Agustus 1602, tapi pada 9 Agustus Abdul Hamid meninggal di negeri Eropa itu dan dimakamkan diperkarangan gereja St Pieter di Middelburg, Zeeland.

Aceh sejak zaman dahulu memiliki para diplomat ulung yang menjalin hubungan dengan luar negeri. Kisah ambasador Abdul Hamid salah satunya. Menurut Prof Osman Raliby dalam sebuah tulisan tentang Aceh, dunia orang Aceh berubah cepat karena pengaruh agama Islam. Hal itu kemudian ditambah dengan bersentuhannya Aceh dengan pedagang-pedagang internasional yang mencari rempah-rempah ke Aceh sejak abad ke 14.

Namun, sejak 18 Agustus 1511, Portugis yang menduduki Malaka menjadi ancaman bagi perdagangan rempah-rempah di Aceh. Raja Aceh yang sudah melakukan kontak dagang dengan kerajaan-kerajaan Islam di India, Persia, Mesir, Turki, dan Bandar-bandar dagang di Laut Merah, menyadari hal tersebut. Akan tetapi tetap menjaga hubungan dengan Portugis.

Persaingan dagang kemudian membuat hubungan itu renggang, karena Portugis berhasrat untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah di Selat Malaka. Karena itu pula Portugis berusaha menghentikan semua pengangkutan rempah-rempah dari pelabuhan Aceh.

Malah,  pada tahun 1520 Laksamana dan Raja Muda Portugis di Goa, Dirgo Lopez De Sequeira mengancam dengan mengultimatum akan menyerang kapal-kapal yang melakukan kontak dagang dengan Aceh. Aceh dan Portugis pun menjadi musuh bubuyutan di selat Malaka.

Sembilan tahun kemudian (1529) Portugis ingin merebut pelabuhan Pidie dan Pase yang menjadi bandar perdagangan rempah-rempah. Namun usaha Portugis tersebut gagal. Raja Aceh berhasil menghalau Portugis untuk kembali ke Malaka. Malah pada Desember 1529, kapal-kapal Aceh muncul di depan Canannore di Pantai barat India, membantu armada Raja Kalicut yang bertempur melawan angkatan laut Portugis di Goa.

Selanjutnya, menurut Prof. Dr. H. Aboebakar Atjeh, dalam tahun 1599--saat itu Aceh dipimpin Sultan Alauddin Riayatsyah yang dikenal dengan sebutan Sayid Al Mukammal (1588-1604)— Belanda datang ke Aceh merintis perdagangan rempah-rempah.

Orang pertama Belanda yang datang ke Aceh itu adalah dua bersaudara Cornelis de Houtman dan Frederik de Houtman. Keduanya diutus oleh Zeewsche reeder Balthazar de Moecheron, Belanda. Keduanya datang dengan dua kapal besar dan berlabuh di Pelabuhan Kerajaan Aceh.

Menyadari adanya misi dagang Belanda ke Aceh, Portugis yang sudah duluan menduduki Malaka menghasut Kerajaan Aceh untuk tidak menerima misi dagang Belanda itu. Pasalnya, Portugis tetap berkeinginan untuk memonopoli perdagangan renpah-rempah. Apalagi waktu itu Portugis bermusuhan dengan Belanda.

Raja Aceh pun terpengaruh, dua utusan dagang Belanda itu, Frederick de Houtman dan Cornelis de Houtman ditahan. Karena negoisasi ekonomi yang gagal maka Cornelis pun kemudian dibunuh. Sementara Frederick ditangkap dan ditawan. Kedua kapal Belanda itu pun berlayar kembali ke Middelburg, Belanda.
  
J Kreemer, seorang penulis Belanda dalam buku “Atjeh”  menjelaskan, pada November 1600 Paulus van Caerden, teman sepelayaran dengan Pieter Both memerintahkan kembali dua buah kapal dari Brabantsche Compagnie  untuk merintis hubungan dagang dengan Aceh.

Paulus van Caerden berhasil membuat suatu perjanjian dagang dengan Aceh, tapi karena saat itu Aceh masih terus dihasut oleh Portugis untuk tidak bekerja sama deangan Belanda. Muatan rempah-rempah dibongkar kembali dari kapal Belanda, mereka pun kembali ke Belanda tanpa hasil apa-apa.

Saat itulah Federick de Houtman berhasil lari dari tawanan orang Aceh dan naik ke kapal Van Caerden untuk melarikan diri. Tapi ia kemudian mengurungkan niatnya dan kembali menyerahkan diri kepada Sultan Aceh. Cerita tentang peristiwa tersebut terangkum dalam De Europeers in den Maleishen Archipel, dan Het handelsverdrag van V Caerden, dalam buku J.E Heeres: Corpus Diplomaticum. Sebuah catatan tentang diplomasi dagang Belanda ke Malaka.

Pun demikian, Belanda terus berusaha untuk merintis perdagangan rempah-rempah ke Aceh.Diminasi Portugis di Selat Malaka dalam perdagangan ingin direbut Belanda. Karena pedagang pedagang dari Belanda terus saja berdatangan ke Kerajaan Aceh untuk melakukan kontak dagang hubungan dagang antara Aceh dan Portugis jadi putus.

Hubungan dagang Kerajaan Aceh dengan Kerajaan Belanda pun resmi terjalin pada tahun 1601. Ketika itu Raja Belanda, Print Maurist melalui utusannya ke Aceh yang merintis kembali urusan dagang, mengirim sepucuk surat serta hadiah-hadiah dari Kerajaan Belanda untuk Raja Aceh.

Pedagang-pedagang dari Belanda yang membawa surat dan hadiah tersebut datang dari misi dagang Gerard le Roy dan Laurens Bicker dengan beberapa buah kapal dari maskapai Zeeuwyang merupakan sebuah eskader dari Middelburg.

Utusan Raja Belanda itu ipun diterima dengan baik oleh Raja Aceh. Kepada mereka diberikan ijin mendirikan maskapai dagang untuk membeli rempah-rempah di Aceh. Sementara Frederick de Houtman dan teman-temanya yang ditahan oleh Sultan Aceh dibebaskan.

Ketika kapal Zeeuw berangkat dari Aceh membawa rempah-rempah ke Belanda, Sultan Aceh mengirim utusannya ke Belanda dengan menumpang kapal tersebut untuk menguatkan perjanjian persahabatan antara Aceh dan Belanda. Utrusan Aceh yang dikirim Sultan Alauddin Riayatsyah al Mukamil itu adalah, Abdul Hamid, duta besar Kerajaan Aceh, Laksamana Sri Muhammad, Mir Hasan, dan seorang bangsawan Aceh, serta penerjemah Leonard Werner.

Rombongan ini tiba di Belanda pada bulan Agustus 1602. kedatangan mereka disambut besar-besaran. Pada 9 Agustus Duta besar Aceh, Abdul Hamid meninggal di sana dan dimakamkan diperkarangan gereja St Pieter di Middelburg, Zeeland. Sejarah pertemuan duta Aceh dengan Raja Belanda, Print Maurist tersebut kemudian ditulis oleh Dr. J. J. F. Wap  dalam buku “Het gezantschap van den sultan van Achin (1602) aan Print Maurits van Nassau en de Oud-Nederlandsche Republiek,” 1862.

Traktrat London
Pada 2 November 1872, lima bulan sebelum perang dipermaklumkan, Belanda telah memperolah kekuasaan dari Inggris untuk berkuasa di Sumatera. Aceh pun menggeliat, karena menilai Ingris telah mengingkari perjanjian dengan Aceh pada tahun 1819 melalui Traktat London.

Dalam Traktat London tersebut, Inggris menyatakan menghormati kemerdekaan Aceh dan melindungi pelayaran di Selat Malaka. Karena itu pula Aceh berlindung dibalik perjanjian tersebut. Tapi setelah 2 November 1872, Inggris memberi kekuasaan kepada Belanda untuk berkuasa di Sumatera dengan tidak akan ikut campur dengan urusan Sumatera, maka Traktat London itu seakan tak lagi punya arti.

Belanda yang ingin menancapkan kekuasannya di Sumatera pun mulai tidak menghormati kedaulatan Aceh. Mereka sering menggangu kapal-kapal niaga yang akan berlabuh dari dan ke Aceh. Alasannya, memberantas pembajakan dan lalu lintas perdagangan budak.

Padahal Belanda ingin memonopoli perdagangan rempah-rempah di Selat Malaka.Untuk tujuan itu, Aceh harus di rebut. Berbagai surat pun dikirim ke Sultan Aceh, tapi selalau dijawab dengan tegas, menolak campur tangan Belanda dalam perdagangan di Aceh.

Karena itu pula, orang-orang Aceh sering merampas kapal Inggris, Belanda, Italia dan Amerika yang melewati Selat Malaka. Alasannya, kapal-kapal tersebut membawa rempah-rempah yang dibeli secara illegal di berbagai pelabuhan di pantai Aceh bagian barat dan utara, serta membawa barang seludupan.

Sikap Aceh terhadap Belanda semakin lama semakin bermusuhan. Khawatir akan terjadi perang besar dengan belanda. Pada tahun 1868 Aceh melakukan perundingan rahasia dengan Turki. Tapi Turki waktu itu sangat terikat dengan Inggris, yang membutuhkan bantuan untuk melawan Rusia.

Diplomasi dengan Amerika
Tahun 1872 menjaleng penyerangan Belanda ke Aceh. Utusan Aceh mengadakan perundingan rahasia dengan Konsul Jenderal Amerika dan Italia di Singapura. Dalam pertemuan itu, Konsul jenderal Amerika di Singapura, Mayor A.G Studer memberikan perhatian khusus terhadap pertikaan Aceh dengan Belanda.

Ia mengatakan ingin terlibat membantu Aceh. Untuk itu Studer mengirim kawat kepada Panglima skadron angkatan laut Amerika yang sedang melakukan patroli di Laut Cina. Ia menginginkan agar kapal tersebut terus melaju ke Singapura untuk membantu Aceh.

Sambil menunggu angkatan laut Amerika tersebut, Studer merancang konsep perjanjian persahabatan antara Aceh dengan Amerika. Tapi usaha Studer itu gagal, karena Menteri Luar Negeri Amerika saat itu, Hamilton Fish, menolak untuk memberikan perhatian khusus pada persoalan Aceh dengan Belanda.

Bahkan dalam suratnya kepada Duta Besar Amerika di Denhaag Belanda, Hamilton menyebut Stuger sebagai konsul yang tolol. “Orang itu (Stuger-red) benar-benar tolol,” tulis Hamilton dalam suratnya. Diplomasi Aceh untuk bekerja sama dengan Amerika pun gagal. Padahal Stuger dan utusan Aceh di Singapura, saat itu telah membuat konsep perjanjian  dalam bahasa Inggris dan Melayu.

Ternyata dalam pertemuan utusan Aceh dengan konsul Amerika dan Italia di Singapura waktu itu, juga hadir seorang mata-mata Belanda yang kemudian membocorkan rencana kerja sama Aceh dengan Amerika tersebut. Belanda pun memaikan peran baru, memaklumatkan perang dengan Aceh, karena tak ingin Aceh menjalin kerja sama dengan negara lainnya untuk menghadapi Belanda.

Sejarah Aceh pun terus bergerak dari satu perang ke perang lainya. Belanda mencatat sebagai perang terlama dan paling banyak menguras kas negara, plus darah dan nyawa. Andai konsep perjanjian Aceh dengan Amerika ditandatangani, mungkin simpul sejarah Aceh akan bergerak ke arah lain.[Iskandar Norman]


Sumber: acehsky.blogspot.com
[Lanjut baca...]

Sunday, November 9, 2014

Teuku Raja Sabi, Putra Raja Wali

Anak panglima perang Aceh itu digelari Belanda Putra Raja Wali. Darah Teungku Syik Di Tunong dan Cut Mutia yang mengalir dalam tubuhnya, menjadikannya sebagai spirit perjuangan bagi rakyat Aceh di Kereutoe.


Teungku Syik Di Tunong, bisa tersenyum saat dieksekuisi hukuman tembak mati oleh Belanda di Lhokseumawe. Panglima perang Aceh itu pergi dengan tenang setelah Cut Mutia, istrinya, bersedia dan bersumpah akan melaksanakan dua pesan terakhirnya, yakni menikah dengan Pang Nangroe, yang akan menggantikannya sebagai panglima perang melawan Belanda, dan membesarkan anaknya, Teungku Raja Sabi menjadi panglima perang yang tangguh.


Sumpah Cut Mutia itu pun dilaksanakan. Sebagai janda dari seorang panglima, ia menolak menikah dengan beberapa Ulee Balang, pria terpandang di Keureutoe yang hendak meminangnya. Sebaliknya, ia menikah dengan seorang pria biasa yang ditunjuk oleh almarhum Teungku Syik Di Tunong, pria itu adalah Pang Nangroe, lelaki dari kaum biasa yang sanggup meneruskan perang melawan Belanda.



Bersama Pang Nanggroe lah, Cut Mutia dan anaknya Teuku Raja Sabi melewati hari-hari menegangkan dalam kancah perang melawan Belanda. Namun setelah bertahun-tahun melakukan peperangan, Cut Mutia dan Pang Nangroe meninggal dalam sebuah pertempuran. Tinggallah Teuku Raja Sabi yang masih kecil, sebagai pewaris yang sah terhadap Ulee Balang Keuretoe.


Meninggalnya Pang Naggroe dan Cut Mutia tak menyurutkan semangat gerilyawan Aceh untuk menentang Belanda. Sebaliknya spirit perjuangan terus berkobar, karena Teuku Raja Sabi, generasi panglima perang Aceh masih hidup. Ia masih kecil, usianya belum sampai 13 tahun, tapi setiap mendengar Teuku Raja Sabi masih hidup, semangat perlawanan rakyat di pelosok-pelosok Aceh Utara terus berkobar.


Menyadari hal tersebut, Belanda pun terus melakukan pemburuan terhadap gerilyawan Aceh yang melindungi Teuku Raja Sabi. Bagi Belanda, Teuku Raja Sabi merupakan tokoh kunci perlawanan rakyat di Keureutoe yang harus ditangkap hidup atau mati.

Akibat pemburuan gencar yang dilakukan Belanda, gerilayawan Teuku Raja Sabi pun terus terdesak. Akhirnya, taktik perang tipu Aceh pun dilaksanakan oleh gerilayawan Aceh. 


H C Zentgraaff dalam buku “Atjeh” menulis tentang tipuan mencengangkan tersebut. Pada tanggal 6 Desember 1913, Letnan Schouten, penguasa pemerintah sipil Belanda di Lhokseumawe, diberitahukan oleh jaksanya bahwa ia sanggup menurunkan Teuku Raja Sabi. Hal itu tentunya setelah mendapatkan bisikan dari pejuang Aceh. Tawaran jaksa itu diterima oleh Schouten. Dan inilah awal dari babak tipu Aceh tadi.



Jam lima sore, setelah jaksa itu mengutarakan niatnya, terjadilah kesibukan di Lhokseumawe. Ratusan massa mengikuti seorang bocah yang dibawa oleh serang pejuang Aceh. “Raja Sabi, Raja Sabi, Raja sabi, inilah raja kami,” teriak massa yang mengiringi bocah itu. “Benar kamu Raja Sabi?” tanya Letnan Shouten pada bocah itu. “Benar, saya Raja Sabi, putra Teungku Syik Di Tunong,” jawabnya.


Gubernur Swart, penguasa Belanda di Kutaraja (Banda Aceh-red) tidak serta merta percaya pada pengakuan bocah itu. Ia mengutus beberapa Ulee Balang ke Lhokseumawe untuk memastikan berita tersebut. Mereka mengakui itu Raja Sabi, di depan Belanda mereka menghormatinya, dengan mencium tangan bocah itu.


Belanda berharap dengan menyerahnya Teuku Raja Sabi, perlawanan rakyat Aceh di Aceh Utara dan sekitarnya akan berakhir. Tapi malah sebaliknya, perang semakin gencar dilakukan gerilyawan Aceh. Belanda pun semakin gencar berperang dan disibukkan dengan perang-perang baru, karena kenyataannya, Teuku Raja Sabi asli yang menjadi spirit perjuangan rakyat Aceh Utara kala itu, masih bersama gerilyawan Aceh di belantara Gunung Seuleumek sampai tahun 1916.


Keberadaan Teuku Raja Sabi asli akhirnya tercium juga oleh Belanda. Letnan Schouten mengumpulkan puluhan Ulee Balang menuju kawasan tersebut. Perhelatan akbar dilakukan, Shouten mengharap Teuku Raja Sabi menyerah dan akan dipelihara serta disekolahkan oleh Belanda. Tapi para Ulee Balang di Keuretoe waktu itu meminta kepada Pemerintah Belanda untuk membuktikan bahwa Teuku Raja Sabi yang ditangkap pada 1913 itu palsu, baru mereka mau menyerahkan yang asli. 


Swart selaku Gubernur Militer Belanda di Kutaraja saat itu menolak permintaan itu, demi menjaga gengsinya terhadap pemerintah Belanda di Denhag, maka usaha letnan Schouten untuk menangkap Teuku Raja Sabi yang asli pun sia-sia. Dan perang terus berkecamuk dengan spirit yang ditebarkan Teuku Raja Sabi yang oleh Zentgraaff, mantan serdadu belanda yang beralih menjadi wartawan perang, menggelarinya dengan sebutan Putra Rajawali.


Darah Teungku Syik Di Tunong dan Pengaruh Pang Nanggroe

Keberadaan Teungku Raja Sabi sebagai spirit bagi para pejuang Aceh di Keureutoe tak lepas dari pengaruh almarhum ayahnya, Teungku Syik Di Tunong, Uleebalang Keureutoe, yang menggelar puluhan kali serangan terhadap Belanda. 


Suatu ketika ia ditangkap. Suami Cut Mutia akan dihukum dengan hukuman gantung. Tapi Van Daalen, Gubernur Hindia Belanda di Aceh menghargainya sebagai seorang penglima pejuang Aceh yang gagah berani. Ia merubah vonis menjadi hukuman tembak; kematian yang terhormat terhadap seorang pejuang.


Tertangkapnya Teuku Syik Di Tunong setelah ia dan anak buahnya melakukan penyerangan terhadap patroli Belanda di Desa Meurandeh Paya, Lhokseumawe, Aceh Utara. Sekitar 16 anggota pasukan Belanda tewas dicincang dengan gaya how bovenop, gaya tebasan pedang khas masyarakat Aceh. Sabetan pedang dengan ketrampilan yang besar, sehingga senjata tajam tersebut membelah mulai dari bahu kiri korban sampai dalam mencapai rongga dada, yang menyebabkan korban langsung tewas.


Pada hari-hari sebelum menjalani hukuman matinya, Teungku Syik Di Tunong masih diperkenankan menerima kunjungan istrinya. Ia meminta kepada Cut Mutia agar mendidik anaknya menjadi seorang panglima perang yang akan meneruskan perjuangannya. Pesan lainnya, agar Cut Mutia menikah dengan Pang Nanggroe setelah ia meninggal. Cut Mutia pun bersumpah kepada suaminya itu, akan melaksanakan dua amanah tersebut.


Berbekal sumpah Cut Mutia itu pula, Teungku Syik Ditunong dipagi-pagi buta dengan tersenyum menuju pantai dekat Lhokseumawe. Sebuah regu militer ditempatkan Belanda untuk mengeksekusinya. “Dia mati sebagai seorang jantan,” tulis HC Zentgraaff.


Tinggallah Cut Mutia yang sedang hamil. Berdasarkan adat lembaga Aceh, anak yang dikandung Cut Mutia lah yang berhak menduduki jabatan Uleebalang Keureutoe, pengganti Teungku Chik Di Tunong, ayahnya. Tapi tak lama setelah dilahirkan, anak itu meninggal dunia.

Setelah 44 hari kematian bayinya itu. Cut Mutia pun melaksanakan amanah kedua dari almarhum suaminya. Ia memberitahukan kepada Pang Nanggroe, bahwa dirinya sudah siap untuk diperistrikan. Pang Nanggroe bukanlah seorang pemuda terkemuka. Ia hanyalah seorang tuha peut di kampung Matang Teungoh. Tapi mengapa almarhum Teungku Syik Di Tunong meminta agar Cut Mutia menikah dengannya.


Pertanyaan itu muncul dari setiap orang saat itu. Apalagi masih banyak kaum Uleebalang yang berhasrat meminang Cut Mutia setelah kematian suaminya itu. Tapi semua itu ditolak, karena dianggapnya sebagai pria yang lemah. 


Beda dengan Pang Nanggroe, ia telah lama ikut dalam peperangan mendampingi Teungku Syik Di Tunong dan Cut Mutia. Di mata Cut Mutia, ia mampu membuktikan dirinya sebagai pejuang pemberani yang penuh semangat, yang mampu menggantikan peran Teungku Syik Di Tunong, baik sebagai panglima perang, maupun sebagai suami baginya.


Mendapat kabar dari Cut Mutia, Pang Nanggroe yang didampingi Pang Lateh bersama pasukannya pun turun gunung untuk meminang Cut Mutia, yang sudah menunggu bersama Teuku Raja Sabi (putra raja wali) anaknya. Cut Mutia didudukkan di sebuah tandu, sementara anaknya, Teuku Raja Sabi dijaga oleh puluhan pasukan Pang Nanggroe. “Mereka adalah para jantan yang tahan uji, yang bertugas memberikan pengawalan terhadap sang anak dimana pun ia berada,” tulis Zentgraaff.


Setelah pernikahan itu. Bulan madu bagi Cut Mutia adalah melakukan penyerangan terhadap pasukan Belanda bersama suaminya itu. Perang itu pun terus berkobar dengan semangat menjaga kekuasaan Keureutoe, karena Teuku Raja Sabi, anak Cut Mutia adalah tokoh kunci yang mampu membuat semangat perang itu berkobar. 


Meski masih kecil dan berada dalam hutan, setiap mendengar Teuku Raja Sabi masih hidup, masyarakat Keureutoe pun semakin bersemangat memerangi Belanda. Tahu soal itu Belanda pun mencoba mencari Teuku Raja Sabi, tapi tak pernah ditemukan. Ia yang diawasi oleh ayah tirinya, Pang Nanggroe, bukanlah mudah untuk ditemukan oleh Belanda.


Pada September 1905, Pang Nanggroe bersama gerombolan pimpinan Teuku Ben Pira, saudara Cut Mutia, melakukan serangan bersama-sama terhadap Belanda. Kemenangan demi kemenangan pun mereka capai. Belanda tambah kerepotan. Tapi dua tahun kemudian, tepatnya 1907, Teuku Ben Pira meninggal, gugur dalam peperangan. Sejak saat itulah pasukan Teuku Ben Pira sepenuhnya berada dibawah pimpinan Pang Nanggroe.


Menurut Zentgraaff, Pang Nanggroe merupakan seorang panglima perang yang punya mobilitas tinggi. Dia merupakan pejuang yang tak terduga, yang bisa melakukan serangan dadakan kapan saja. Pada 6 Mei 1907, ia bersama 20 pasukannya, menyerang sebuah bivak militer Belanda. Dua tentara Belanda tewas empat luka-luka dalam serangan kilat itu. Ia juga berhasil merampas 10 pucuk senapan beserta 750 butir peluru, serta sebuah senapang berburu dan sebuah karaben winchester.


Sebulan kemudian, tepatnya 15 Juni 1907, Pang Nanggroe kembali menyerang bivak militer Belanda di Keude Bawang, Idi, Aceh Timur. Merampas persenjataan militer Belanda, dan meninggalkan pedang-pedang tua di sana. “Ini merupakan bukti, betapa cepatnya Pang Nanggroe dan pasukannya bergerak. Ia merampas senapan dari pihak kita, dan meninggalkan pedang-pedang tua, setumpuk besi tua yang bisa kita dapatkan di setiap keude,” lanjut Zentgraaff.


Kemenangan demi kemanangan pun diraih Pang Nanggroe dan pasukannya. Nama Pang Nanggroe kemudian dielu-elukan, tidak hanya di Keureutoe, tapi juga keluar daerah tersebut. Setiap mendengar kabar keberhasilan Pang Nanggroe, pemuda-pemuda desa meninggalkan kampungnya, sawah-sawah dibiarkan tak terurus. Mereka memilih bergabung bersama Pang Nanggroe memperkuat barisan perjuangan di Keureutoe, yang kemudian melakukan serangan-serangan berbahaya ke Lhoksukon, Pase, dan daerah-daerah lain di luar Keureutoe.


Melihat kesuksesan itu, Cut Mutia pun bisa tersenyum dan terus mendampingi suaminya. Dan satu hal yang tak pernah dilupakannya, pesan almarhum suaminya Teungku Syik Di Tunong. Pilihan almarhun panglima perang itu ternyata tidak salah. Nama Pang Nanggroe, seorang lelaki biasa itu pun kemudian semakin tenar sebagai panglima perang. Namanya diletakkan setaraf dengan sederetan nama-nama panglima perang Aceh lainnya, yang sebagian besar merupakan para ulama.


Terhadap kesuksesan Pang Nanggroe tersebut, Zentgraaff menulis. “Tampaknya hasil jerih payah kita (Belanda-red) bertempur puluhan tahun, musnah seluruhnya. Dan bagi Cut Mutia pastilah sesuatu yang sangat mengembira, melihat seluruh rakyat Keureutoe bergolak,” tulis Zentgraaff.[Iskandar Norman]



Sumber: acehsky.blogspot.com
[Lanjut baca...]

Monday, September 15, 2014

Jejak Gayo di Pulo Puep Luengputu


Satu lagi bekas purba kala di Kabupaten Pidie Jaya menurut catatan H M Zainuddin ada di Gampong Pulo Puep, sekitar dua sampai tiga kilomter arah utara pasar Luengputu.

Di gampong itu juga ditemukan kuburan dengan batu nisan yang sama seperti ditemukan di makam raja raja Pasai dan makan di Keulibeut. Kuburan itu ditemukan di sebuah tempat yang dinamai Pulo Gayo. Pada tahun 1939 H M Zainuddin pernah melakukan penelitian lansung ke tempat itu. Ia mengaku penasaran mengapa tempat itu dinamai Pulo Gayo sementara umumnya orang mengetahuyi Gayo itu berada di Aceh bagian tengah. 



Dari pedududuk di Pulo Puep H M Zainuddin memperoleh informasi bahwa dahulu kala di daerah itu hanya ada beberapa gampong diantaranya: Pulo Piuep, Pulo Pisang dan Pulo Angkoi di dekat Kuala Putu (Luengputu) yang menyatu dengan Kuala Ndjong. Suatu waktu seorang raja dari Gayo datang ke daerah itu untuk menghadap raja Ndjong. Tapi sampai di kuala itu ia sakit dan beberapa hari kemudian meninggal. Ia dikuburkan di sana. 


 Beberapa tahun kemudian ahli waris Raja Gayo itu datang berziarah. Kuburan itu diperbaiki dan dipasang batu nisan yang berukir dengan huruf arab yang artinya “Di sini ada kuburan Raja Gayo”. Setelah itulah daerah di kuburan itu dinamai Pulo Gayo. 

Ketika meneliti keberadaan kuburan tersebut, H M Zainuddin menemukan potongan-potongan batu nisan yang sudah runtuh dan jatuh ke dalam sebuah sungai kecil (alue). Dua potongan nisan itu diambil oleh H M Zainuddin. Ia merekam tulisan di potongan nisan tersebut dengan menggunakan karbon. 

Dari penduduk Pulo Pueb H M Zainuddin juga memperoleh kabar bahwa tidak jauh dari Pulo Gayo itu nelayan di sana sering menemukan rantai suah kapal dan papan bekas perahu zaman dahulu. H M Zainuddin pun kemudian melanjutkan penelitiannya ke sana. Kesimpulannya, daerah itu merupakan salah satu daerah pelabuhan penting zaman dahulu di Kerajaan Pedir, malah jauh sebelum kerajaan itu terbentuk, yakni pada masa Pedir masih bernama Kerajaan Sama Indra. 

 Meski demikian, H M Zainuddin tidak bisa memastikan bagaimana bentuk dan susunan pemerintahan di kerajaan tersebut. Hanya saja ketika Kerjaan Aceh Darussalam telah terbentuk dan Pedir menjadi bagian federasi di dalamnya, diketahui bahwa Pedir yang saat itu sudah dipanggil dengan sebutan Pidie diperintahkan oleh banyak uleebalang di berbagai wilayahnya. 

Para uleebalang itu bergelar meuntroe, panglima, imum, keujruen dan bentara, seperti: Meuntroe Banggalang, Meuntroe Garot, Bentara Rubee, Imum Peutawoe Andeue, Meuntroe Gampong Are, bentara Po Puteh Mukim VIII, Imum Lhokkadju, Meuntroe Metarem (Metareuem), Meuntroe Krueng Seumideum, Bentara Pinueng, Bentara Gigieng, Bentara Blang Ratnawangsa, panglima Meugeu, Bentara Keumangan, Meuntroe Adan, Bentara Seumasat Glumpang Payong, Bentara Blang Gapu (Ie Lubeu), Bentara Gampong Asan, Bentara Ndjong, Bentara Putu, Bentara Alue, Keujruen Aron, Keujruen Pencalang Rimba Truseb, Bentara Djumbo’, Bentara Titue, Bentara Keumala, Kejrueng Panteraja, Kejrueng Peurambat Pangwa, dan Keujrueng Chik Meureudu. 

Para uleebalang tersebut memerintah sendiri negerinya yang langsung berhubungan dengan Sulthan Kerajaan Aceh Darussalam. Bahkan beberapa uleebalang diangkat oleh raja Kerajaan Aceh Darussalam pada masa diperintah oleh Sulthan Iskandar Muda. Mereka yang diangkat langsung oleh Sulthan Iskandar Muda merupakan para uleebalang baru untuk memimpin daerah yang baru dibuka waktu itu, seperti: Bentara Pineung, Bentara Gigieng, Panglima Meugeu, Imuem Peutawoe Andeue dan Ilot, Bentara Cumbo’, Bentara Titue dan Bentara Keumala. 

Daerah itu dibuka oleh Sulthan Iskandar Muda untuk memperluas persawahan dan mengatur irigasi. Air dari Keulama dialirkan hingga ke persawahan melalui sungai kecil (lueng) ke setiap wilayah pertanian seperti Rubee, Iboh (Lueng Bintang), Ie Lubeu (Lueng Djaman), Mangki (Lueng Busu/Lueng Rambayan). Air dari Keumala itu juag ditersukan ke Lueng Alue Batee, Glumoang Payong, Unoe (Lueng Glumpang Minyeuk/Lueng Trueng Campli), Ndjong dan Lancok (Lueng Putu). 

Semua jalur irigasi (lueng) itu digali secara bersama-sama oleh rakyat atas perintah Sulthan Iskandar Muda. Karena itulah negeri-negeri di Pidie dan Meureudu waktu itu kaya dengan berbagai hasil pertanian dan perkebunan. Malah pada zaman Sulthan Iskandar Mudan, negeri Meureudu dijadikan sebagai daerah lumbung pangan bagi Kerajaan Aceh Darussalam. 

 Pembangunan irigasi ke sawah-sawah di semua daerah itu juga melibatkan ulama-ulama setempat, seperti Tgk Di Waido (Lueng Bintang) atau sering disebut Tgk Di Pasi, kemduian Tgk Treung Campi di Glumpang Minyek yang membuka irigasi ke blang raya Glumpang Payong. Tgk Rubiah (Rubieh) di Meureudu dan beberapa tempat lainnya. Sampai sekarang para petani sebelum turun ke sawah melakukan khanduri blang di makam ulama-ulama tersebut. 

Bentara Luengputu Diserang Pada masa kerajaan Aceh Darusalam diperintah oleh Sulthan Alauddin Mahmud Syah (1767 – 1787) terjadi kekacaun di berbagai dearah akibat perang saudara. Uleebalang yang satu menyerang wilayah uleebalang lainnya untuk memperluas daerah kekuasaan dan menguasai perkebunan. Untuk menghadapi hal tersebut, dibentuklah dua federasi uleebang di Pidie, yakni federasi uleebalang duablah (12) dan federasi uleebang nam (6). 

 Federasi uleebalang duablah meliputi Teuku Raja Pakeh, Teuku Bentara Ribee, Meuntroe Banggalang, Teuku Bentara Blang, Bentara Tjumbo’, Bentara Titue di bagian barat yang dipimpin oleh Teuku Raja Pakeh. Kemudian di bagian timur Meuntroe Adan, Bentara Seumasat Glumpang Payong, Keujrueun Aron, Keujruen Truseb, Bentara Ndjong, Bentara Putu, Bentara Gampong Asan yang dipimpin oleh Meuntroe Adan yang bergelar Meuntroe Polem kemudian menjadi Lakasama Polem. 

Sementara federasi uleebalang nam terdiri dari: Bentara Keumangan (Panghulee Peunareu), Bentara Sama Indra (Mukim VIII), Bentara Pineung, Bentara Keumala, Panglima Meugeu, dan Bentara Gigieng. Federasi ini dipimpin oleh Bantara Keumangan.

Laksamana Polem kemudian mengawinkan anaknya yang bernama Teuku Muhammad Hussain dengan anak Teuku Bentara Ndjong. Ketika Teuku Bentara Ndjong meninggal ia tidak memiliki anak laki-laki, maka diangkatlah menantunya itu sebagai penggantinya oleh masyarakat setempat. 

Kemudian Teuku Muhammad Hussain menikah lagi dengan anaknya Teuku Bentara Gampong Asan, karena perkawinan itu pula Gampong Asan berhasil dipengaruhinya. Dari sana ia menunaikan haji ke Mekkah. Sepulangnya dari Mekkah ternyata Laksamana Polem ayahnya sudah meninggal, maka diangkatlah dia menjadi laksamana dengan gelar Laksamana Tuan Haji Muhammad Hussain. 

Laksamana Hussain sangat giat membangun perkebunan lada. Pada masa itu Bandar Pulau Pinang di semenanjung Malaka sudah dibuka oleh Raffles, maka Laksamana Hussain berangkat ke sana bersama rombongannya untuk misi dagang. 

Pulang dari sana, ia memperluas perkebunan, uyntuk tujuan itu maka Bentara Putu diserang. Ia ingin mengambil dan menguasai perkebunan di perbukitan Paru, Musa dan Panteraja yang saat itu juga sudah mengembangkan perkebunan lada. Setelah menaklukkan daerah tersebut, Laksamana Hussain mendatangkan orang-orang Cetti dari Pulau Pinang untuk bekerja di perkebunan tersebut. Perkebunan itu di atas perbukitan Musa itu diatur oleh Haji Lam Ara, kawannya Laksamana Hussain ketika sama-sama naik haji ke Mekkah. 

Laksama Hussain memmiliki 17 anak, anak-anaknya itu diminta untuk mengatur dan membuka wilayah perkebunan baru. Teuku Rajeu’ Main disuruhnya menjaga pantai sepanjang Blang Gapu, Ie Luebeu sampai ke Kuala Ndjong. Ia memerintah di sana dengan membuka peternakan sapi dan pertambakan, serta memperbanyak pukat (jaring) bagi para nelayan. 

Anak Laksamana Hussain lainnya, Teuku Sjahbuddin disuruh untuk menetap di Panteraja. Di sana ia membuka perkebunan lada dan menikah dengan anak Kejrueng Beuracan. Anak Laksamana Hussain ada juga yang dinikahkan dengan Keujruen Chik Samalanga. Sementara anaknya yang tua, Teuku Mahmud membantunya memerintah di Kuala dan Keude Ndjong. Karena perkawinan anak-anaknya itulah pengaruh kekuasaannya Laksamana Hussain semakin melebar. 

Kemudian anaknya yang peempuan bernama Pocut Atikah dikawinkan denan Teuku Raja Pakeh Dalam. Karena giatnya Laksamana Tuan Haji Muhammad Hussain membangun perkebunan dan memperluas kekuasan, ia menjadi uleebalang terkaya di Pidie melalui politik perkawinan anak-anaknya, hingga ia mendapat dukungan yang kuat.

Setelah Laksamana Tuanku Muhamamd Hussain mangkay, maka diangkatlah Tueku Mahmud, anaknya sebagai pengganti degan gelar Laksamana Mahmud. dDalam pemerintahannya terjadi perang dengan negeri Meureudu, karena Meureudu menyerang untuk merebut wilayah Pangwa dan Trienggadeng. Panglima Siblok yang diangkat oleh Laksamana Mahmud untuk memerintah di Kejreuen Pangwa tak mampu melawan. Ia ditangkap dan dikirim ke Bentara Keumangan oleh panglima Meureudu karena negeri Meureudu waktu itu telah mengkat hubungan dengan federasi uleebalang nam. 
Sampai di Keumangan, Panglima Siblok dibunuh. Karena itu Laksamana Mahmud marah besar. Ia menghimpun pasukannya untuk menuntut balas dan menyerang Negeri Meureudu. Dalam perang itu penglima perang negeri Meureudu Teuku Muda Cut Latif ditawan dan dikirim ke Bandar Aceh Darussalam untuk disidangkan oleh Sulthan. 

Sulthan kemudian mendamaikan dua negeri tersebut dan panglima Meureudu dibebaskan, sementara wilayah Pangwa dan Trienggadeng diserahkan dalam pengawasan federasi uleebalang duablah yang dipimpin oleh Laksamana Mahmud. Dari perdamaian itu kemudian anak Laksamana Mahmud dinikahkan dengan anak panglima besar negeri Meureudu, Teuku Muda Cut Latif.[Iskandar Norman]



Sumber: acehsky.blogspot.com
[Lanjut baca...]

Tuesday, March 4, 2014

Indra Patra Sebuah Riwayat Patriotik

Benteng Indra Patra merupakan salah satu situs sejarah Aceh. Sampai kini masih banyak wisatawan lokal yang berkunjung ke daerah tersebut, meski kondisi benteng yang terletak di Desa Lamdong, Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar tersebut sudah sangat memprihatinkan.


Menuju ke lokasi benteng tidak lah begitu sulit, jika Anda berada di Banda Aceh, dapat mengendarai sepeda motor atau mobil kearah Krueng Raya melewati Ujong Batee, dan berhenti didesa Lamdong, selanjutnya papan penunjuk arah yang menjelaskan di mana lokasi benteng dapat memudahkan Anda ke sana. 


Namun bagi yang tidak memiliki kendaraan jangan khawatir, Anda bisa naik kendaraan umum yang menuju Krueng Raya lalu kemudian berhenti di Lamdong untuk selanjutnya berjalan kaki melewati lorong menuju benteng. Walaupun lumayan jauh, ketika sampai di lokasi, pemandangan Selat Malaka dari atas benteng sedikit bisa mengurangi rasa lelah Anda. Di jalan tak banyak warga yang lalu-lalang. Hanya beberapa pelancong, tampak sesekali terlihat melintas.



Begitu memasuki kawasan benteng, dua buah gerbang masuk akan menanti Anda. Sebuah pos jaga yang berada di sebelah kanan gerbang terlihat berdiri kokoh. Begitupun tak terlihat ada petugas yang berjaga disana. 

Menurut cerita, Benteng Indra Patra dibangun oleh keturunan Raja Harsya dari India Selatan pada 604 Masehi. Semula bangunan ini merupakan tempat tinggal keluarga raja dan digunakan untuk kegiatan ritual. Namun, ketika pasukan Iskandar Muda merebutnya dari Portugis, peninggalan kerajaan Hindu tersebut berubah fungsi menjadi tempat penyimpanan senjata, seperti meriam dan bedil. 

Begitupun, ada sumber lain yang menyebutkan bahwa benteng ini dibangun pada masa Kesultanan Aceh Darussalam dalam upaya menahan serangan Portugis. Karena menurut sejarah, benteng pertahanan yang terletak di pinggir pantai adalah pertahanan utama sebuah daerah atau kerajaan. Jika benteng di pinggir pantai sudah dikuasai musuh, otomatis daerah atau kerajaan tersebut dengan mudah dapat dikuasai oleh musuh. Bagaimanapun benteng ini sangatlah besar fungsinya pada jaman Sultan Iskandar Muda yang angkatan lautnya, pada waktu itu, dipimpin oleh Laksamana Malahayati.

Malahayati, adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Pada tahun 1585-1604, ia memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV. Pada tanggal 11 September 1599, Malahayati memimpin 2.000 orang pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah tewas) berperang melawan kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda sekaligus berhasil membunuh Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal, sehingga kemudian ia mendapatkan gelar Laksamana untuk keberaniannya ini.

Seperti juga makam Syiah Kuala, benteng yang terbuat dari semen dan batu sungai ini terletak di bibir pantai Selat Malaka. Tinggi masing-masing benteng sekitar enam meter. Didalam komplek benteng terdapat beberapa bangunan yang semuanya juga terbuat dari batu, diantaranya ada bangunan yang berupa persegi. Konon, bangunan tersebut digunakan sebagai tempat berunding atau rapat. 

Yang menarik, ada sebuah bangunan menyerupai kolam terletak persis di bawah sebuah pohon besar, bangunan tersebut menyerupai bathtub untuk tempat mandi. Yang membedakan hanya ukurannya yang lebih rendah dan terbuat dari batu. Menurut cerita juga, tempat tersebut dulunya digunakan sebagai tempat untuk mandi. 

Pada 26 Desember 2004 silam, bencana gempa dan tsunami turut menghempaskan sebagian bangunan benteng yang memang sudah tergerus dimakan waktu. Seperti yang terlihat di beberapa sudut komplek, onggokan batu yang sudah tidak berwujud dibiarkan berserakan. Hingga kini belum terlihat adanya niat dari dinas terkait untuk memugar bangunan benteng yang di seluruh permukaannya telah berlumut itu. 

Hanya itu sajakah? Nanti dulu, banyaknya sampah yang berserakan, mulai dari plastik, pakaian bekas hingga maaf pembalut wanita turut menjadikan benteng ini semakin tak terawat serta mengurangi nilai historis yang terkandung di dalamnya. 

Dulu ketika Aceh masih menjadi daerah konflik, para wisatawan lokal yang berkunjung kesana bisa dihitung dengan jari, akan tetapi setelah kesepakatan damai pemerintah Indonesia-GAM, dan perdamaian pun berangsur-angsur pulih, benteng tersebut kembali ramai dikunjungi.[Iskandar Norman/pm]



Sumber: acehsky.blogspot.com
[Lanjut baca...]
 
Copyright © . Bungong Jaroe - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger